Kamis, 16 Juni 2011

POMPA HYDRAM HASIL KARYA ANAK DESA

Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, sebenarnya bukan kawasan kering kerontang. Desa yang terletak di kaki Gunung Slamet, pada ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut, itu memiliki dua mata air: di kawasan Tuk Seladan dan Tuk Poh.Hanya saja, warga desa harus menyusuri jalan setapak berbukit-bukit sejauh satu kilometer untuk mendapatkan air bersih. Bayangkan saja kerepotan yang terjadi. Kalau tak mau berjalan, bisa mengupah orang Rp 10.000-15.000 untuk menimba air.''Tapi itu dulu, 10 tahun lalu,'' tutur Turwiyati, 53 tahun, seorang warga Kotayasa. Kini ibu tiga anak itu cukup berjalan kaki ke sebelah utara atau selatan RW 5 yang berjarak 100 meter dari kediamannya. Ada dua bak penampungan air bersih sebesar 6 meter kubik di sana. ''Semua itu berkat Pak Sudiyanto dengan pompa air yang dibuatnya itu,'' kata Turwiyati.Sudiyanto, 43 tahun, bukan seorang pejabat penting atau tokoh masyarakat. Kedudukan tertinggi yang pernah dicapainya adalah kepala desa hingga 2007, setelah sebelumnya pernah menjadi karyawan koperasi dan tukang ojek. Kini Sudiyanto menjadi petani dengan sawah seluas 2.800 meter persegi.Untuk menambah penghasilan, Sudiyanto pun punya kerja sampingan sebagai pembuat pompa. Tapi kerja sampingan inilah yang membuat Sudiyanto jadi kondang. ''Sudah ratusan pompa yang saya buat dan pasang di berbagai daerah,'' kata suami Suhartik itu.Pompa made in Sudiyanto ini cukup istimewa, yakni hydraulic ram (hidram), sebuah pompa air bertenaga air. Ya, hidram tak memerlukan listrik atau bahan bakar minyak, tetapi cukup tenaga air. Pompa hidram karya Sudiyanto mampu menarik air hingga sejauh 1.015 meter dari mata air ke perumahan penduduk, dengan ketinggian hingga 300 meter. ''Saya memang terobsesi untuk mempermudah warga memperoleh air bersih,'' ujar Sudiyanto.Teknologi pompa hidram sudah berlangsung lama. Sudiyanto mengenal hidram dari sebuah buku kusam di perpustakaan desa, 10 tahun silam. ''Isinya, petunjuk cara membuat pompa tenaga air dengan teknologi dari Belanda,'' kata Sudiyanto. Pompa ini segera menarik perhatian Sudiyanto, apalagi mengingat kondisi Desa Kotayasa yang sulit air bersih.Modal awal membuat hidram terkumpul sebesar Rp 5 juta, sumbangan dari sejumlah kerabat. Tapi banyak juga warga yang tak percaya pada proyek Sudiyanto. Bayangkan saja, bagaimana mungkin sebuah pompa dapat mengalirkan air dari tempat yang jauh, ke tempat yang tinggi pula, tanpa listrik atau catu daya lainnya sama sekali? ''Saya dianggap wong gemblung, orang gila,'' tutur Sudiyanto sembari tersenyum.Sialnya, Sudiyanto berkali-kali gagal mewujudkan pompa idamannya. Cemoohan pun makin menjadi-jadi. ''Tapi itu malah membuat saya makin bersemangat,'' katanya. Akhirnya pompa Sudiyanto berhasil menaikkan air, tetapi cuma setinggi 7 meter. Sejumlah warga RT 2 sudah dapat menikmatinya.Setelah berjalan tujuh bulan, pompa itu tiba-tiba bocor. Tapi itu justru membuat semburan air makin kencang. Sudiyanto pun kembali mengotak-atik, merancang ulang bangunan pompa. Rupanya lubang bocor tadi berpengaruh pada gerakan katup pemasukan dan pembuangan air sehingga menjadi lebih cepat.Setelah membuat posisi lubang yang tepat, Sudiyanto mampu menarik air hingga ketinggian 300 meter. Menurut Sudiyanto, teknik ini seperti membuat dua lubang pada kaleng susu. ''Satu lubang untuk aliran udara yang memperlancar keluarnya susu di lubang lainnya,'' ujar Sudiyanto.Seorang keponakan Sudiyanto yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto menyarankan agar proyek hidram ini diikutsertakan dalam lomba karya inovatif. Lomba ini diselenggarakan Indonesia Daya Masyarakat, sebuah LSM di Jakarta. Pompa hidram Sudiyanto langsung mendapat penghargaan utama, dengan hadiah uang mencapai Rp 150 juta. ''Saya sempat pingsan di hotel begitu mendengar jadi juara,'' kata Sudiyanto.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan hadiah itu di Istana Negara. Sudiyanto tak menikmati hadiah itu seorang diri. Dana itu justru dijadikan modal untuk membangun enam instalasi air bersih lainnya. Sebuah pompa hidram berikut instalasinya menghabiskan dana Rp 10-Rp 15 juta. Dana selebihnya digunakan untuk pembebasan lahan, termasuk kawasan dua mata air Desa Kotayasa.Kini Kotayasa memiliki dua bak penampung air bersih di sebelah selatan dan utara desa, cukup untuk kebutuhan setidaknya 576 kepala keluarga (KK). Instalasi air bersih ini sekarang dikelola Paguyuban Masyarakat Pendamba Air Bersih (PMPAB). Tiap-tiap KK dipungut iuran Rp 2.000. ''Itu untuk biaya perawatan dan kebersihan yang dikelola paguyuban,'' ungkap Sudiyanto.Sejak itu, Sudiyanto jadi sibuk menerima order membuat pompa hidram dari berbagai daerah, seperti Purwokerto, Ngawi, Bogor, dan Bandung. Bahkan keandalan pompa Sudiyanto terdengar hingga ke kawasan transmigrasi Bandar Penawar, Sumatera. Untuk setiap unit instalasi hidram, Sudiyanto mematok harga Rp 10-Rp 15 juta, tergantung jauh dekat dan kondisi lokasi. ''Tapi, kalau untuk pesantren, ada harga damai,'' kata Sudiyanto.Tak hanya itu. Pompa hidram ala Sudiyanto mendapat pengakuan nasional. Dalam pemilihan Indonesia Berprestasi Award 2008, para juri yang terdiri dari ilmuwan, wartawan, dan sosiolog memutuskan Sudiyanto sebagai salah satu pemenang untuk kategori bidang ilmu dan teknologi, November 2007. Karya Sudiyanto itu mengalahkan setidaknya 939 kandidat lainnya.Bahkan, pada putaran final, pompa hidram Sudiyanto mengalahkan karya seorang profesor berupa teknologi listrik tenaga surya. ''Kami memilih mereka yang mampu membangkitkan semangat anggota masyarakat lain, sekecil apa pun prestasi yang dibuat orang tersebut,'' kata Adrie Subono, seorang juri.



SISTEM KERJA POMPA
Pompa Hydraulic ram (Hydram) adalah pompa air dijalankan dengan tenaga air itu sendiri. Bekerja seperti transformator hidrolik dimana air yang masuk kedalam pompa, yang mempunyai “hydraulic head” (tekanan) dan “debit” tertentu, menghasilkan air dengan hydraulic head yang lebih tinggi namun dengan debit yang lebih kecil.
Pompa ini memanfaatkan “Water hammer effect” untuk menghasilkan tekanan yang memungkinkan sebagian dari air yang masuk memberi tenaga kepada pompa, diangkat ke titik lebih tinggi dibandingkan head awal dari air tersebut.
Pompa Hydram ini sangai sesuai untuk digunakan di daerah terpencil, dimana terdapat sumber air yang mempunyai head rendah, serta diperlukan memompa air kelokasi pemukiman yang mempunyai elevasi  lebih tinggi dari sumber air tersebut .
Pada kondisi seperti inilah pompa hydram menjadi sangat bermanfaat sekali, karena pompa ini tidak membutuhkan sumber daya lain selain energi kinetik dari air yang mengalir itu sendiri.
Cara kerja pompa ini adalah sebagai berikut :
Air mengalir dari sumber air (3) melalui saringan (4) dan drive pipe (2) kedalam rumah pompa (5). Sebagian air terbuang keluar melalui waste valve (1) sampai air memenuhi rumah pompa (5) . Ketika  rumah pompa  sudah penuh dengan air dan air mampu mendorong waste valve hingga menutup, maka air masuk kedalam air chamber (7) melalui delivery valve (6). Ketika ketinggian air didalam air chamber lebih tinggi dari kedudukan  check valve (9), maka udara yang berada didalam air chamber tertekan sehingga menimbulkan “Water hammer efect” dan menekan air kebawah sehingga delivery valve tertutup dan air terdorong keluar melalui check valve (9) dan delivery pipe (8). Sementara itu didalam rumah pompa (5) waste valve (1) membuka kembali akibat berat dari valve itu sendiri, sehingga sebagian air didalam rumah pompa (5) terbuang keluar melalui waste valve (1) dan air mengalir kembali dari sumber air (3) kedalam rumah pompa (5) sampai akhirnya mampu mendorong kembali waste valve (1) sehingga tertutup lagi dan air masuk kedalam air chamber (7). Demikian siklus tersebut terjadi berulang-ulang sehingga terjadi proses pemompaan dari sumber air ketempat yang lebih tinggi dari sumber air tersebut.
Pada pompa hydram ini diameter dari delivery pipe harus lebih kecil dari drive pipe, dan berat dari waste walve diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu berat maupun terlalu ringan. Apabila waste valve terlalu berat, maka aliran air tidak akan mampu mendorong waste valve agar menutup sehingga air hanya lewat saja langsung terbuang keluar. Apabila waste valve terlalu ringan maka ketika aliran air kedalam air chamber baru berlangsung sebentar waste valve sudah menutup kembali sehingga terjadinya water hammer efect tidak optimal dan akan berpengaruh terhadap kinerja dari pompa.

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. PENEMUAN YANG SANGAT BERMANFAAT BAGI SESAMA.....BRAVO PAK SUDIYANTO, SEMOGA KARYA ANDA DAPAT HAK PATEN DAN BERMANFAAT BAGI ANDA DAN MASYARAKAT SEKITAR....

    BalasHapus
  3. Apakah saya boleh meminta nomor kontak Pak Sudiyanto?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Almyra dari Millennium Challenge Account Indonesia. Kantor saya ingin menghubungi Pak Sudiyanto. Apakah saya boleh meminta nmr kontak Pak Sudiyanto. Kalau bisa, mohon dikirimkan ke alamat email saya almyrajuned@yahoo.com. Saya sangat mengharapkan bantuannya terima kasih

      Hapus
  4. silahkan hubungi kantor Bappeda Kabupaten Banyumas (0281)632548 karena di Bawah Binaan Kantor Bappeda Kab. Banyumas

    BalasHapus